Mengungkap Jejak Sejarah Waduk Seloromo, Warisan Kolonial yang Menjadi Primadona Wisata Pati
PATI- Salah satu objek wisata yang tengah naik daun di Kabupaten Pati, tepatnya di Desa Gembong, Kecamatan Gembong, adalah Waduk Seloromo. Pesonanya yang tenang dan memesona membuat siapa pun yang datang seakan tersihir oleh panorama alamnya. Terletak di dua dukuh—Seloromo dan Selorejo—waduk ini mulai mencuri perhatian publik sejak 2019.
Padahal, mulanya Waduk Seloromo atau yang kerap disebut Waduk Gembong belum menjadi destinasi utama warga Pati. Statusnya yang belum resmi sebagai objek wisata membuat tempat ini cenderung sepi. Namun semua itu berubah menjelang pandemi Covid-19. Saat banyak destinasi resmi ditutup, waduk ini justru menjadi pilihan masyarakat—terutama anak muda—untuk melepas penat dan mencari suasana tenang.
Tak banyak yang tahu, waduk ini sejatinya menyimpan sejarah panjang sejak era kolonial Belanda. Menurut penuturan pengelola wisata, Warsito, waduk tersebut sudah berdiri sejak tahun 1932.
"Waduk Gembong ini Waduk Seloromo namanya, soalnya berada di Dukuh Seloromo yang kemudian dibangun sebuah waduk ini tahun 1932 sampai 1933. Yang buat Belanda cuma pekerjanya dari lokal, tetapi koordinatornya Londo (bangsa Belanda) sana," ucapnya.
Sebelum menjadi waduk, kawasan itu merupakan permukiman penduduk. Namun karena proyek pengairan pemerintah Hindia Belanda, wilayah tersebut digarap menjadi waduk besar untuk menjaga pasokan air pertanian.
"Dinamakan Waduk Seloromo soalnya dukuh di tengah waduk yang awalnya perumahan warga, kemudian dijadikan waduk hingga terbentang di dua dukuh yakni Selorejo dan Seloromo. Sana (Seloromo) lebih tua karena dukuh aslinya, lalu ada pembaruan dukuh yakni Selorejo," ungkapnya.
Dari sisi bahasa, nama “Seloromo” diambil dari kata Jawa ‘Selo’ yang berarti batu dan ‘Romo’ yang berarti tua. Sementara “Selorejo” berarti batu yang ramai—‘Selo’ dan ‘Rejo’.
Seiring berkembangnya kawasan, nama Seloromo akhirnya diabadikan sebagai nama waduk, sedangkan Selorejo tumbuh sebagai wilayah yang lebih dinamis. Dengan potensi keramaian dan lokasinya yang berada di tepi waduk, area Selorejo kemudian disulap menjadi taman wisata bernama Taman Selo 2.
"Selorejo ini ramai sekali dan spotnya menarik cocok untuk dijadikan tempat bersantai oleh warga. Akhirnya saya dan rekan-rekan menjadikan area tanah di Selorejo ini kurang lebih 500 meter menjadi taman, dan akhirnya menjadi Taman Selo karena dikelola oleh masyarakat Selorejo dan Seloromo, maka namanya Taman Selo 2," paparnya.
Popularitas Waduk Seloromo memuncak saat pandemi. Ketika tempat-tempat wisata resmi ditutup, waduk ini justru dibanjiri pengunjung.
"Mulai viral memuncaknya 2019 kemarin, 2018 masih sepi tapi sudah ada pengunjung. Di masa covid naik tinggi soalnya wisata resmi pada tutup semua. Lha sini wisata belum resmi tidak ditutup makanya masyarakat pada pergi ke sini semua," ujarnya.
Namun, lonjakan pengunjung juga menimbulkan dampak lain. Pemerintah daerah dan warga setempat sempat kewalahan menghadapi keramaian yang tak terbendung, hingga dilakukan beberapa kali penutupan akses.
"Tapi waktu itu udah agak ramai, lalu ada penutupan sederhana, yang dulunya ini sempet jalan ditutup karena Covid, kemudian lingkungan terganggu. Udah empat kali penutupan," tuturnya.
Menariknya, kawasan Waduk Seloromo tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga menyimpan nilai sejarah dan spiritual. Di sekitar waduk terdapat petilasan Ki Ageng Selo yang hingga kini dirawat dengan baik oleh warga setempat.
"Ada petilasan Ki Ageng Selo, beliau pernah tidur di situ waktu mau sowan ke Sunan Muria, Ki Ageng Selo bermalam di situ, akhirnya di situ jadi petilasannya. Orang sini memberi nama Makam Ki Ageng Selo. Makam itu sudah ada sebelum ada waduk," jelasnya.
Dengan panorama yang memukau, sejarah yang panjang, dan nuansa spiritual yang kental, Waduk Seloromo kini menjadi salah satu permata wisata Pati yang patut dikunjungi. Pesonanya bukan hanya menawarkan keindahan, tetapi juga kisah yang mengalir dari masa ke masa.


Posting Komentar