Hujan Seharian, Banjir Pati Meluas ke Selatan: Sungai Godo Meluap, Ratusan Rumah Terendam

Table of Contents

 


PATI – Intensitas hujan tinggi yang mengguyur Kabupaten Pati sepanjang Sabtu, 10 Januari 2026, memperparah bencana banjir di Bumi Mina Tani. Jika sebelumnya banjir hanya melanda wilayah Pati bagian utara dan tengah, kini genangan air meluas hingga ke wilayah selatan Kabupaten Pati.

Banjir di Pati selatan dipicu oleh meluapnya Sungai Godo yang tak mampu menampung debit air kiriman dari wilayah hulu. Akibatnya, sejumlah desa terdampak cukup parah, mulai dari Desa Godo dan Desa Gunungpanti di Kecamatan Winong hingga Desa Sinomwidodo, Desa Angkatan Kidul, dan Desa Angkatan Lor di Kecamatan Tambakromo.

Warga Desa Gunungpanti, Harno, mengungkapkan bahwa limpasan air mulai masuk ke permukiman warga sejak sore hari sekitar pukul 17.30 WIB. Air Sungai Godo meluber ke jalan raya dan rumah-rumah penduduk, terutama di wilayah perbatasan Kecamatan Winong dan Tambakromo.

“Di Sungai Godo-Gunungpanti airnya meluber (ke sekitar), jalan tidak bisa dilewati roda dua dan roda empat. Untuk teman-teman ini gede airnya meluber hingga permukiman rumah,” ungkapnya petang ini.

Ia pun mengimbau masyarakat di wilayah rawan agar meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi banjir susulan.

“Pesan dari saya waspada untuk warga Sinomwidodo, Angkatan Kidul, Angkatan Lor. Dan waspada juga untuk Dukuh Paras, Desa Tanjunganom, Kecamatan Gabus. Terimakasih,” pesannya.

Sementara itu, Kepala Desa Sinomwidodo, Rakimin, menyampaikan bahwa banjir telah merendam sedikitnya enam RT di wilayahnya. Genangan air meliputi Dukuh Cengklik, Dukuh Ledokan, dan Dukuh Krajan dengan ketinggian air mencapai 40 hingga 70 sentimeter.

“Hujan sehari mulai siang tadi sampai sekarang ini masih hujan lebat lagi. Genangan ada di Dukuh Cengklik, Ledokan, sama Krajan, ada total enam RT. Paling parah ada di RT 1, RT 2, RT 3, RT 6 dan RT 7 di Dukuh Ledokan,” jelasnya saat diwawancarai Mondes.co.id malam ini.

Selain merendam rumah warga hingga ke dalam ruangan, banjir juga menggenangi tiga tempat ibadah. Sejumlah perabot rumah tangga, perangkat elektronik, serta kendaraan milik warga telah diamankan di area sekitar Masjid Desa Sinomwidodo.

“Ada yang masuk rumah ke rumah warga yang belum ditinggikan 40 sentimeter. Ada tiga mushola kena banjir, ndak sampai masuk karena bangunan ditinggikan semua, banjir bandang kemarin (2022) banyak bangunan ditinggikan semua,” terang Rakimin.

Tak hanya permukiman, akses jalan antar desa pun terdampak cukup serius. Beberapa ruas jalan utama terendam air dengan ketinggian yang cukup membahayakan pengguna jalan.

“Arus lalu lintas tidak bisa dilalui. Jalan Sinomwidodo-Gunungpanti, Sinomwidodo-Angkatan Kidul tidak bisa dilalui, apalagi ketinggian air di jalan itu 70 sentimeter sampai 1 meter. Kalau yang Sinomwidodo ke Karangwono atau Tambakromo masih bisa, tapi harus berhati-hati,” katanya.

Rakimin menilai, banjir di wilayahnya tak lepas dari kondisi kawasan hutan di Pegunungan Kendeng yang semakin gundul sehingga tak mampu menahan laju air dari hulu Sungai Godo.

“Penyebabnya curah hujan tinggi yang daerah atas aliran Sungai Godo. Ini kan penyebabnya tetap dari hutan gak ada tanaman penahan air karena gundul,” beber Rakimin.

Ia berharap adanya langkah konkret berupa penghijauan kembali kawasan Pegunungan Kendeng serta normalisasi Sungai Godo di seluruh titik aliran, termasuk yang melintas di desa-desa terdampak.

“Harapanya penanaman kembali di Kendeng yang menjadi hamparan hutan. Lalu normalisasi sungai, Sinomwidodo kemarin juga sudah normalisasi, tapi aliran di Angkatan Kidul dan Angkatan Lor belum sehingga sungai kurang efektif,” ujarnya.

Saat ini, Pemerintah Desa Sinomwidodo telah berkoordinasi dengan Babinsa dan Bhabinkamtibmas untuk memastikan keselamatan warga. Penanganan banjir juga dilakukan bersama para relawan guna mengamankan warga serta melindungi aset dan harta benda milik masyarakat terdampak banjir Pati.


Posting Komentar